“Bu, kok bengong di sini?” suara seorang wanita mengusikku yang sedang menatap sebuah bangunan.
Aku menoleh dan mendapati seorang wanita muda yang cantik, didekapannya ada seorang anak yang sedang tertidur pulas.
“Eh iya, neng. Saya lagi nostalgia,” jawabku sambil kembali menatap bangunan tersebut.
Wanita itu ikut-ikutan melihat ke arah bangunan.
Lima menit berlalu, tidak ada suara yang terdengar selain desau angin yang berhembus.
“Ada apa dengan bangunan itu, Bu?” kembali wanita itu bertanya kepadaku.
Aku menghela napas, teringat sembilan tahun yang lalu saat aku meninggalkan bangunan itu. Isak tangis murid-muridku terdengar saat aku memberitahukan kalau aku akan pergi dari kota ini. Mataku kembali berkaca-kaca, wanita muda itu melihatku hampir menangis. Segera ia memberikan sehelai tisu yang ada di tasnya. Anak yang ada didekapannya bergerak-gerak. Wanita muda itu bersenandung agar anaknya tertidur lagi.
“Aku merindukan saat itu, saat bangunan ini masih sekolah,” akhirnya aku menjawab, sambil menyeka air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Wanita muda itu ikut terdiam.
Aku kembali meratapi bangunan yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi mall. Di sekelilingnya sekarang banyak sekali terdapat gedung pencakar langit. Lagi-lagi aku merasa miris, dulu aku dan murid-muridku sering bermain di sekitar area sekolah yang memang terdiri dari taman-taman yang hijau dan menyenangkan. Kupu-kupu masih bebas berterbangan, suara kicauan burung terdengar. Sekarang? Jangan harap ada kupu-kupu dan burung-burung yang terbang, yang ada hanyalah polusi udara berwarna hitam dan suara klakson kendaraan yang memekakkan telinga.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Aku menoleh dan mendapati wanita muda itu sedang menangis tersedu-sedu.
“Dulu aku yang menjual sekolah ini kepada developer, sekarang aku menyesal karena anak-anakku tidak dapat bermain bebas lagi di sini.”
Aku menatap wajah wanita itu, dan teringat, ia adalah anak dari ketua yayasan. Sembilan tahun yang lalu, ia adalah anak yang menangis tersedu-sedu, menarik-narik rokku agar aku tidak pergi.