Archive | fiksi RSS feed for this section

[cerpen anak] Matahari dan Hujan

13 May

IMG_20150503_171015

Yuhuuu. Kali ini saya datang dengan fiksi lagi. Alhamdulillah, cerita anak ini telah dimuat di Koran Kompas Minggu, 3 Mei 2015 lalu. Bagi yang berlangganan Koran Kompas, silakan dicari edisi tersebut ya. Siapa tau penasaran pengen liat aslinya *geer*. Cerpen ini saya kirim dari bulan Juli 2014 lalu, dan baru dimuat setelah sekitar 9 bulan. Setiap cerpen yang saya kirim, memang saya catat tanggal pengirimannya. Padahal ujung-ujungnya sih saya juga kadang udah lupa dengan cerpen-cerpen yang saya kirim. Bagusnya memang gitu sih. Kirim. Kemudian lupakan. Biar kalau nggak dimuat, nggak ngarepin banget 😀

Ah, sepertinya terlalu panjang ya prolog kali ini. Yuk, mari silakan baca cerpen anak ini. Kritik dan sarannya tetap diterima lho! 🙂


MATAHARI DAN HUJAN

Oleh: Husfani A. Putri

 

Namaku Matahari. Aku senang sekali menyinari Bumi agar tidak gelap dan dingin. Seperti hari ini, aku sedang duduk di singgasanaku, tubuhku bersinar cerah sekali. Kulihat beberapa orang di bawah sana berjalan dengan bergegas, beberapa memakai topi, payung, dan kacamata hitam untuk melindungi dirinya dari sinarku yang terik.

“Cerah sekali ya hari ini,” suara seseorang di bawah sana terdengar sayup. Aku yang sedang mengantuk akhirnya menegakkan diriku lagi. Mengambil kaca pembesar dan trompet pendengaran agar aku dapat mendengar dan melihat ke bawah sana.

“Iya, mataharinya lagi semangat bersinar,” temannya menimpali.

Dari pakaian yang dikenakan, aku tahu kalau mereka baru saja pulang sekolah. Baju putih, rok merah, tak lupa dengan topi pet berwarna putih dan merah. Mereka berjalan beriringan. Sesekali terdengar suara tawa dari mereka berdua.

“Mumpung lagi cerah, kita main sepeda, yuk!” kata orang pertama yang berbicara, mengusulkan idenya. Rambutnya dikepang terlihat dari bawah topinya.

“Oke, nanti kita bertemu di lapangan dekat sawah saja, ya,” ujar temannya yang melambaikan tangannya untuk masuk ke rumah.

Aku tersenyum mendengar percakapan mereka. Senang rasanya kalau mereka tidak terlalu terganggu dengan panas matahari. Malah mereka akan bermain sepeda.

Singgasanaku berputar, tak jauh dari rumah kedua anak itu, di sebuah sawah para petani sedang berkumpul. Aku mengarahkan kaca pembesar dan terompet pendengaran di atas mereka.

“Sudah lama tidak hujan,” kata petani yang menggunakan baju berwarna merah mengatakan dengan nada sedih. “Sawah kita kekeringan, sumber air pun semakin sedikit.”

“Kita ambil air dari sumur terdekat saja. Kebetulan sumur itu sekarang sudah jarang dipakai,” kata petani berbaju kuning mengusulkan.

Petani merah, sepertinya adalah pimpinan kelompok, terlihat sedang berpikir. Seluruh petani sedang menatap penuh harap agar segera ditemukan solusi untuk membuat sawah mereka kembali dialiri air.

Aku tertegun, memang sudah lama hujan tidak turun. Sebelumnya, aku mengira bahwa mereka senang dengan kehadiran sinarku yang membuat semua tumbuh. Namun, ternyata semua butuh keseimbangan. Seperti sawah, selain butuh sinar matahari, dia juga membutuhkan air hujan. Segera aku memutar tubuh dan mencari awan hujan. Tak lama, aku menemukannya. Badannya yang berwarna putih sekarang mulai berwarna abu-abu. Aku bersorak gembira, artinya awan tersebut akan menurunkan hujannya.

“Hai, Awan Hujan. Di mana kamu akan menurunkan hujanmu?” tanyaku sambil mendekatinya.

“Tahan, Matahari!” Awan Hujan malah semakin menjauhiku. Aku berhenti mendekatinya, sedikit heran dengan sikapnya yang tidak mau dekat denganku.

“Maaf aku harus menjauhimu, Matahari,” Awan Hujan meminta maaf. “Masalahnya, kalau aku terlalu dekat denganmu, maka air yang sudah aku tampung di tubuhku akan menguap dan hujan tidak akan turun.”

Mendengar penjelasannya, aku kemudian mengangguk. Benar juga, kasihan para petani itu kalau hujan tidak jadi turun membasahi sawahnya. “Aku mengerti, Awan. Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

“Untuk sementara, tolong kamu berlindung dulu di balik awan yang lain, agar sinarmu tidak membuat air di tubuhku menguap.”

Aku kembali mengangguk. Saat akan beranjak pergi dan Awan Hujan siap menurunkan hujannya, aku teringat dengan pembicaraan dua anak sekolah yang akan bermain sepeda itu. “Tunggu, Awan Hujan! Aku baru teringat bahwa ada dua anak yang ingin bermain sepeda di lapangan dekat sawah karena cuaca sedang cerah. Boleh tidak aku memintamu hanya membasahi sawah yang kekeringan itu saja?”

Awan Hujan terlihat sedang berpikir, sambil melihat ke arah lapangan dan sawah yang hanya dibatasi oleh sungai kecil. Kedua anak itu sudah berada di sana. Bermain sepeda sambil tertawa riang.

“Aku tidak bisa menghentikan hujanku di sana, tapi aku bisa membuatnya menjadi gerimis kecil agar tidak terlalu mengganggu permainannya. Anak-anak suka bermain hujan-hujanan, kan?” katanya sambil tersenyum.

Beberapa menit kemudian, hujan mulai turun. Aku bersembunyi di balik awan, mengintip kedua anak tersebut yang sedang bermain sepeda. Benar saja, saat hujan pertama kali jatuh, mereka malah semakin bersorak. Mereka menyimpan sepedanya di pinggir, kemudian berlari-lari menyambut hujan.

Di sawah, para petani yang sedang merencanakan untuk mengambil air dari sumur, segera bersujud setelah tahu ada hujan yang turun. Wajah mereka terlihat gembira.

Aku mendengar nama agung Tuhan disebutkan tak henti-henti oleh mereka. Sama seperti kedua anak di lapangan, mereka berlari-lari dengan gembira. Kembali lagi menjadi seperti anak kecil yang senang saat hujan turun.

SELESAI

Advertisements

[Fiksi] Jalan Setapak

3 Jan

“Sha, hari ini kau pulang sendiri, ya. Aku masih ada perlu di sekolah.”

Asha baru saja menutup risleting tasnya saat Aidan datang mendekat. Wajahnya seketika berubah, mengerutkan kening, kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah.

“Aku mau menunggumu saja.”

“Tidak usah. Aku akan lama, dan pasti kau akan bosan karena aku akan membuat percobaan untuk acara KIR nanti.”

Bola mata Asha memutar. “Iya, aku pasti akan bosan.” Kemudian ia menutup mulutnya, menahan agar suara tawa tertahannya tidak terlalu kentara.

Aidan merenggut, pura-pura marah melihat respons Asha.

“Baiklah, aku akan pulang sendiri.”

Sebenarnya, Aidan tidak tega membiarkan Asha pulang sendiri melewati jalan setapak sepi itu. Jalan raya yang biasanya mereka lewati, sekarang sedang dalam perbaikan. Mobil, motor, sepeda, bahkan pejalan kaki pun tidak bisa melewatinya. Maka dengan terpaksa beberapa hari terakhir mereka mengubah rutenya.

“Ayo aku antar kau ke depan gerbang sekolah.” Aidan mempersilakan Asha untuk jalan duluan, dia kemudian mengikuti dari belakang.

“Kalau perlu apa-apa, jangan ragu-ragu hubungi aku.” Pesan Aidan saat Asha menaiki angkot yang akan membawanya pulang.

“Iya.” Dilambaikan tangannya sampai Aidan mengecil. Asha membalikkan tubuhnya menghadap jalanan. Melihat banyak sekali perbaikan jalan yang dilakukan sekarang, membuat laju angkotnya seperti keong.

Dua puluh menit kemudian, Asha sudah turun dari angkot. Memulai perjalanan jalan kakinya menuju rumah. Memasuki jalan setapak sepi yang jarang dilalui orang. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya benar-benar memasuki jalan itu. Di samping kiri dan kanan hanya ada hamparan kebun luas. Di depan, ia melihat ada dua orang yang sedang berjalan ke arahnya. Setidaknya, kali ini ia tidak sendirian. Setelah dua orang itu melewatinya, jantung Asha berdegup kencang. Di depannya kosong, tak ada orang lain. Ia menengok ke belakang. Dari kejauhan terlihat beberapa titik orang dan terdengar suara riuh tertawa. Mau tak mau ia teringat desas desus yang beredar tentang gerombolan lelaki itu. Asha bergidik, mulutnya komat kamit berdoa memohon perlindungan.

Asha mendekap tas di dada, matanya menatap tanah bercampur debu seiring kakinya melangkah. Napasnya menderu, melirik sedikit dengan sudut matanya, melihat kondisi sekitar yang sepi. Ia ingat, Mama pernah mewanti-wanti agar selalu bersama Aidan saat melewati jalan ini. Tanpa bisa dicegah, sekelebatan kejadian pelecehan yang dilihatnya di televisi, membuat bulu kuduknya meremang. Akhir-akhir ini memang banyak sekali berita seperti itu. Membuat Asha tak nyaman untuk pergi dan pulang sekolah sendirian. Apalagi bila harus melewati jalan setapak sepi seperti ini. Langkahnya semakin dipercepat ketika didengarnya suara riuh yang datang tiba-tiba memenuhi gendang telinga. Ia tidak tahu mereka siapa, yang pasti ia merasakan jari jemarinya mendingin disertai suara detak jantung yang juga berlomba memenuhi pendengarannya.

Sekejap kemudian, sebuah kaki besar menghalangi langkah Asha. Ia bergerak ke kanan, si pemilik kaki bergerak ke kiri, mengikuti gerakan Asha. Asha melangkahkan kakinya ke kiri, lagi-lagi si pemilik kaki itu ikut melangkah di hadapannya. Terdengar suara tawa tertahan di belakangnya.

“Per-permisi, a-aku mau le-lewat,” tergagap, sambil terus menunduk dan makin mendekap erat tasnya, Asha berusaha terus melangkah untuk menghindar dari gerombolan lelaki itu. Tidak bisa, di kanan-kiri-depan-belakangnya, ia sudah dikepung. Tak bisa melangkah sedikit pun. Tangannya gemetar, ujung jarinya sedingin es, jantungnya berdegup tak karuan.

“Pe-permisi,” lagi, ia berusaha untuk dapat keluar dari kumpulan itu.

“Apa kau bilang?” tanya salah seorang lelaki di depannya. “Ada yang mendengar suaranya?”

Banyak suara riuh, Asha hanya dapat mendengar kata ‘tidak’.

“Tidak ada yang mendengarmu, Gadis Kecil. Kau tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.” Udara panas bercampur bau tembakau menyembur di hadapan Asha. Dan terdengar suara tawa memuakkan.

“A-aku mau pulang,” suaranya mencicit, wajahnya basah oleh air mata yang tak berhenti keluar. Kali ini, ia berusaha untuk mencari benda di tasnya yang dapat membantu dalam keadaan seperti ini. Tangannya yang gemetar memperlambat gerakannya. Pun saat akhirnya ada yang mencengkeram erat lengannya, ia tersontak. Wajahnya dibasahi oleh air mata bercampur keringat. Napasnya memburu. Pandangannya mulai kabur, seakan semua melambat. Sedetik kemudian, ia ambruk. Terkulai pasrah di tanah.

Ia dapat mendengar derap beberapa pasang kaki itu semakin menjauh. Sampai akhirnya derap langkah yang terburu-buru itu menjauh dan tak terdengar lagi. Ia memejamkan matanya, membuat air mata yang menggenang akhirnya turun, menganak sungai di pipinya. Asha berusaha menggerakkan tangan, tapi tak ada yang terjadi, tangannya tetap terkulai lemas. Ingin berteriak pun, ia tidak bisa.

Entah sudah berapa lama ia terbaring di tanah, mencoba lagi mengangkat tubuhnya yang masih lemas. Sampai akhirnya ia mendengar langkah kaki gegas yang bergerak ke arahnya.

Siapa pun itu, tolong aku.

“Ya Tuhan!” suara histeris seorang wanita memasuki gendang telinganya. Didengarnya wanita itu berteriak dan berlari ke sana kemari, mencari bantuan. Kembali diselimuti kesunyian, air mata Asha masih tak bisa dibendung. Menit demi menit berlalu sampai akhirnya wanita itu datang bersama dua orang pria yang mendekat, langsung memapah Asha menuju sebuah gazebo yang sudah reyot tak jauh dari tempatnya tergeletak.

“Neng, ini minum dulu.” Wanita yang tadi berteriak memberinya sebuah air mineral gelas, kemudian dibantunya meminumkan kepada Asha. Bibirnya yang masih bergetar, membuat air yang sudah diminumnya tumpah ke sudut bibir. Wajah wanita itu terlihat cemas, berkali-kali beliau mengusap-usap punggung Asha dengan lembut.

“To-tolong tasku, Bu,” katanya lirih sambil menunjuk ke tasnya yang tadi diamankan oleh wanita itu. Tapi, tangannya yang masih lemah tak dapat mengangkat tasnya sendiri.

“Ada yang mau kau hubungi?” tanya beliau lembut.

Asha mengangguk, “Aidan. Tolong ca-cari nama Aidan… dan beritahu aku ada di mana.”

Si wanita mengangguk. Beliau segera mengambil ponsel Asha dan mencari nama Aidan. Tak butuh waktu lama untuk Aidan mengangkat teleponnya dan berbicara dengan wanita itu.

“Sudah,” beliau menyimpan ponsel Asha ke dalam tas dan menyorongkan tasnya untuk dipeluk Asha. “Kau tinggal menunggu, tadi temanmu bilang dia akan segera datang.”

“Te-terima kasih, Bu.”

Beliau hanya tersenyum. “Aku akan menemanimu di sini sampai temanmu datang.”

Wajahnya sedikit kaku akibat jejak air mata yang masih mengalir. Tapi, mau tak mau ia ikut tersenyum. Mengucapkan ‘terima kasih’ lagi dengan lirih.

Keheningan menyelimuti keduanya. Dan si wanita itu tidak berusaha untuk bertanya macam-macam, membuat Asha sangat bersyukur, ia sedang tidak ingin diingatkan oleh kejadian tadi.

Aidan, cepatlah kau datang.

“Sha!” suara panik yang ia tunggu akhirnya datang. Aidan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Asha, mengusap air mata yang menggenang dengan ibu jarinya, kemudian akhirnya ia memberikan tepukan kecil di pundak Asha.

Kali ini Aidan berpaling ke arah wanita yang sejak tadi menemani Asha. Berbicara dengan pelan, sehingga Asha yang masih merasa lemas tak dapat mendengarnya.

“Ibu pulang dulu, ya.” Wanita itu memeluk Asha, yang dibalas dengan pelukan erat. Berkali-kali Asha berbisik ‘terima kasih’ yang hanya ditanggapi dengan tersenyum tulus.

“Ayo kita pulang.” Aidan mengulurkan tangannya untuk mengambil tas Asha. Kemudian dia membantu Asha untuk berdiri. “Bisa berjalan sendiri?”

Asha mengangguk pelan, “tapi pelan-pelan jalannya. A-aku masih lemas.”

“Aku akan selalu di sampingmu. Menemanimu di sepanjang jalan ini.”

Mereka berjalan bersisian. Dalam hening.

“A-apa yang akan aku katakan pada orangtuaku?” terdengar isak tertahan. Aidan menghentikan langkahnya, begitu pun Asha. Lagi-lagi mereka bergeming dalam kesunyian.

“Aku yang akan menjelaskannya. Kau tak usah khawatir.”

Asha mengalihkan pandangannya ke Aidan. Memandang mata cokelat yang teduh itu. Sudut-sudut bibirnya berusaha ia tarik membentuk sebuah senyuman. “Terima kasih. Kau memang sahabatku.”

Tangan Aidan bergerak untuk mengusap-usap puncak kepala Asha. “Lagi pula, memang aku yang salah telah membiarkanmu melewati jalan ini sendiri.”

“Kau kan memang sedang sibuk. Sudah, tidak apa-apa.” Asha mencoba menenangkan.

Kedua pasang manik cokelat itu bertemu. Kali ini dua-duanya melayangkan senyuman. Aku tidak akan membiarkanmu melewati jalan setapak ini sendiri lagi.

.

note: 1.208 kata

diikutsertakan dalam #tantangannulis-nya @JiaEffendie di sini.

endingnya ga banget, sih. hih!

[fiksi] Jakarta, Malam Ini

8 Dec

halo, blog!

ish, udah lama banget rasanya saya nggak ngisi blog ini -.-‘ tapi kalau diliat dari stat, kayaknya masih ada ya yang suka bukain blog ini *ke-PD-an :mrgreen:

anywaaaayy, akhir bulan agustus 2014 kemarin saya dapat kabar gembira. cerpen yang aku kirim ke majalah femina akhirnya dimuat! yaaaaayy! alhamdulillah. harus makin rajin nulis lagi nih supaya nggak kaku. soooo, buat teman-teman yang pengin baca cerpen saya di femina, ini ada link di webnya femina. tapi saya tulis juga di sini, ya. itung-itung portofolio *halah* enjoy! 🙂

***

Jakarta, Malam Ini

Jakarta di malam hari seperti kejatuhan bintang. Tak ada cahaya bintang yang terlihat di langit Jakarta, yang ada adalah ‘bintang-bintang’ itu memancarkan cahayanya di bawah kita. Seperti yang selalu aku lihat dari lantai 24 gedung kantor tempatku  bekerja. Tiap malam, aku selalu lembur. Bukan apa-apa, biasanya saat jam pulang kerja, jalanan tumpah ruah dengan kendaraan. Mau naik Trans Jakarta pun sama saja, pasti antrean panjang dan akan saling sikut menyikut dengan sesama pekerja yang ingin cepat sampai rumah.

Di bulan kedua aku bekerja di sini, akhirnya aku menyerah untuk pulang tepat waktu. Toh, di apartemen tidak ada yang menungguku. Dan aku lebih suka untuk mengerjakan sesuatu dalam keadaan yang lebih tenang. Tidak terlalu hectic seperti kantor di siang hari.
Kendaraan di jalanan seperti parkir massal. Lampu dari kendaraan dan lampu jalan memberikan cahayanya yang indah, berwarna-warni, bergantian seperti warna pelangi. Aku mengambil kursi dan kemudian duduk di samping jendela. Menyesap teh hangat yang baru saja kubuat. Pekerjaan hari ini selesai lebih cepat dari perkiraanku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk memandangi pemandangan dari lantai 24 ini.

Kursi yang aku duduki merupakan satu-satunya yang ada di ruang bersantai di bagian divisiku. Hamparan karpet lembut berwarna hijau membentang di bawah kaki. Biasa digunakan oleh semua karyawan di divisiku untuk makan siang, mengobrol, bergosip, bahkan sampai meeting dengan bos. Televisi layar datar 36 inci menghiasi sudut ruangan, di bawahnya disediakan PS3 untuk para karyawan yang hobi bermain, terkadang dijadikan ajang perlombaan saat penat mulai melanda.

Di seberangnya terdapat lemari pendingin yang selalu penuh makanan, microwave, dispenser, dan laci-laci yang berisi tumpukan piring, gelas, serta alat makan yang selalu dijaga rapi oleh OB. Kantorku ini memang sangat menjunjung tinggi nilai ‘keseruan’ dalam bekerja, makanya mereka menyediakan berbagai macam alat yang setidaknya bisa digunakan oleh para karyawan agar tidak stres. Misalnya di lantai 22, ada sebuah meja biliar yang bisa dimainkan oleh para karyawan, termasuk OB dan satpam. Selain itu, makanan dan minuman selalu tersedia, entah itu kiriman dari vendor, media, atau karyawan yang lain. Bahkan, saat seseorang ulang tahun, biasanya akan ada pesta kecil-kecilan di divisi yang bersangkutan.

“Belum pulang, Ta?”
Suara itu mengagetkanku yang masih melamun. Menoleh ke arah sumber suara dan akhirnya aku menemukan Ambar, teman sedivisiku yang biasanya tidak pernah lembur.
Tersenyum basa-basi saat menjawab, “Iya, nih, Mbar. Aku kan memang selalu pulang malam. Liat, tuh, traffic jam di bawah.” Aku menunjuk dengan dagu ke arah bawah.
Ambar mendekatiku, membawa gelasnya yang berisi air mineral dingin. Ikut melongokkan kepalanya memandangi lalu lintas di bawah. Kemudian dia pergi. Aku mengembuskan napas lega, kami memang tidak dekat. Jarang sekali berbincang di luar masalah pekerjaan. Ambar ini tipe perempuan metropolitan yang senang clubbing, jauh berbeda dengan aku yang datang ke Jakarta hanya untuk bekerja.
Sret… sret… sret… Suara roda kursi terdengar jelas. Ah, ternyata aku salah. Ambar pergi bukan  untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, tapi untuk mengambil kursi. Tuhan, tolong aku….

“Udah beres kerjaanmu, Mbar?” aku basa-basi lagi. Menyesap habis tehku yang sudah tak panas lagi dan segera berdiri untuk mengambil air di dispenser.
“Belum, masih harus nyelesaiin plan untuk presentasi besok.” Dengan santai Ambar menopangkan kakinya. Pahanya yang terbalut stocking warna kulit terlihat dari balik roknya yang sangat mini.

High heels yang biasa digunakannya sengaja ditanggalkan untuk kemudian diganti dengan sandal jepit. Blouse satin warna peach yang digunakan membalut ketat tubuhnya, dua buah kancing atas sengaja dibuka untuk memperlihatkan dadanya yang berisi. Errgh, aku yang perempuan saja kadang-kadang ‘gerah’ melihat penampilannya yang seperti itu.
Aku kembali duduk di kursiku, memandang lagi lalu lintas di bawah sana. Sekarang kendaraan itu sudah mulai bergerak, meski perlahan. Lampu-lampu  makin gemerlapan karena motor-motor yang  makin banyak.
“Ta, Mbar,” suara seseorang menyapa kami yang sedang larut dalam pikiran masing-masing. Kami berdua kompak memalingkan kepala ke arah sudut dispenser. “Gue balik duluan, ya.” Tito, spesialis lembur yang biasanya pulang bareng aku, ternyata sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Aku melihat ke jam dinding, masih pukul 19.45.
“Tumben pulang cepet?”
Tito menyeringai, “Aku mau nge-date dulu. Pacarku udah ngambek aku  lembur terus.”
Aku dan Ambar berpandangan, melemparkan senyum sekilas sebelum akhirnya melambaikan tangan ke Tito.
“Jadi Tito enggak tau?” Ambar cekikikan saat pintu di belakang Tito menutup.
Aku menggelengkan kepala. Berusaha meredam tawa.
Seperti biasa, kecepatan gosip para perempuan di kantor ini secepat kecepatan cahaya. Aku yang jarang ikut bergosip dengan mereka saja, bisa tahu tentang gosip yang sedang hot ini. Pacar  Tito yang kebetulan sekantor, tapi beda divisi, digosipkan punya hubungan lain dengan om-om yang entah siapa. Ambar dan teman divisiku yang lain pernah memergokinya sedang bercumbu di kelab malam yang biasa didatangi Ambar.
“Gila, tuh, perempuan. Bisa-bisanya mengkhianati Tito yang superbaik seperti itu.” Ambar menandaskan air di gelasnya.
Aku mengangguk mengiyakan, “Tapi mungkin Tito-nya juga yang terlalu polos, ya. Liat, deh, perempuan itu genit banget. Sering flirting sama Anton, AE majalah Sport.”
Mata Ambar membulat. “Are you serious? Kok, gue enggak tau, ya?” Suara tawa Ambar sekarang memenuhi ruangan.
Aku melirik ke arah cubicle-cubicle yang untungnya sudah kosong, hanya terisi satu orang yang sedang memakai earphone.
“Iya, aku waktu itu lagi meeting bareng Anton di bawah, terus Ambar lewat, and guess what she did?” aku mencoba bergaya seperti biang gosip di televisi. Ambar terlihat makin penasaran, dia mendekatkan dirinya kepadaku yang menikmati perhatian ini.
Untuk mendapatkan efek yang lebih dramatis dan sengaja agar Ambar makin penasaran, aku meminum air di gelasku sedikit demi sedikit. Benar saja kan, Ambar terlihat penasaran. “She kissed him! Di kantor, lho, di lobi. Dan emang waktu itu lobi lagi kosong, cuma ada aku dan Anton yang lagi meeting.”

Ekspresi Ambar saat ini seperti dia sedang memenangkan sebuah olimpiade, semringah dan suara tawa lepas terdengar dari mulutnya. “Bitch!” Lagi-lagi dia tertawa keras sambil bertepuk tangan. Kadang-kadang aku heran dengan maksudnya melakukan hal itu. Aku sudah menyangka bahwa besok gosip ini akan tersebar dan ternyata yang bercerita adalah Vita, si karyawan teladan yang tidak pernah ikut bergosip. Entah bagaimana pikiran orang-orang bila mengetahui hal ini. Tuhan, ampuni aku.
“Tapi jangan kasih tau siapa-siapa, ya?” Jangan kasih tahu siapa-siapa berarti kasih tahu teman-teman sedivisi, tapi beritanya tidak boleh bocor ke telinga divisi lain. Ambar mengangguk, dan aku percaya dia akan menepati janjinya. Sudah beberapa kali kejadian seperti ini –dengan teman-teman yang lain tentu, bukan dengan aku– dan memang yang tahu hanya teman-teman di divisiku saja.
Setelah melakukan beberapa kali pose kemenangannya, Ambar menatapku. Kali ini dengan tatapan heran. Oh, aku tahu kenapa dia menatapku seperti itu. “Ta, you should go with us to the club. Flirting with some guys or even one night stand.”
Oh Tuhan, kenapa harus aku?
Aku tersenyum sopan sambil memainkan gelas di tanganku, kemudian menggeleng. “Enggak, Mbar. Aku enggak suka asap rokok, aku enggak minum alkohol, dan aku enggak bisa tidur lebih dari pukul 11 malam.”
Dan kali ini Ambar tersenyum, seolah meremehkan, “Tapi, lo kan lembur terus? Enggak penat, tuh, pikiran penuh dengan kerjaan?”
“Justru buatku, menenangkan pikiran itu, ya, di apartemen. Duduk santai sambil baca majalah, dengerin musik, atau nonton TV. Udah itu aja. Untuk pergi ke kelab malam, kurasa itu bukan tempatku.” Semoga Ambar tidak mendengar dengan nada seorang single yang kesepian.
“Di kelab malam bisa minum, pasti langsung lupa dengan masalah lo.”
Aku tertawa mendengar pernyataan konyol Ambar.

Sedikit melirik ke Ambar, aku berjalan menuju kulkas, memeriksa apa yang tersisa di dalamnya. Kue cokelat sisa ulang tahun Anya kemarin masih bagus dan tersimpan rapi di kulkas. Aku membuka laci untuk mengambil piring dan sendok, kemudian memotong kue cokelat itu menjadi 2 slice. Salah satu piring aku berikan kepada Ambar yang langsung diambilnya tanpa mengucapkan terima kasih. Sepertinya orang ini harus dikembalikan ke TK agar belajar kembali mengucapkan ‘terima kasih’.
Kue cokelatnya sangat lembut, krim yang digunakan pun enak, manisnya pas dan tidak meninggalkan after taste. Aku terus menyendok kue, kembali menatap ‘bintang’ dari lantai 24 gedung ini. Berharap Ambar tak usah membuka mulutnya kembali dan meninggalkanku yang masih betah di sini.
“Pacar lo mana?”
Rasanya ingin aku bungkam mulutnya dengan kue cokelat di kulkas. Pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan yang sangat sensitif bagi perempuan yang masih single di usianya yang sudah seperempat abad. Seperti pertanyaan, “Kapan nikah?” yang membuat siapa saja ingin pergi sejauh mungkin agar tak ditanya dengan pertanyaan ‘keramat’ itu.
“Aku kan udah putus.”
“Oh, ya? Kapan? Kenapa?”
Dan yang paling aku benci dari pertanyaan “Pacar lo mana?” itu karena pasti setelahnya ada pertanyaan lanjutan bertubi-tubi yang susahnya melebihi ujian saat kuliah. Rasanya aku ingin pergi ke kutub selatan agar tidak ditanya-tanya lagi.
“Udah lama, kok. Dan enggak usah dibahas lagi. Udah lupa juga aku,” aku mengeluarkan suara tawa palsu. Dan pura-pura terpekik kaget ketika melihat jam dinding sudah mendekati angka 10. “Dan, aku mesti pulang sekarang. Kamu mau pulang bareng?” Damn! Pertanyaan yang salah. Please, say no.
“Enggak usah, deh. Lo duluan aja. Gue masih mau nyelesaiin dikit lagi kerjaan gue.”
Aku tak bisa menutupi wajah lega. “Oke, gue duluan, ya.”

Buru-buru aku minum dan menyimpan piring serta gelas bekasku di meja dan segera menuju cubicle untuk merapikan tas. Melambaikan tangan saat melewati Ambar yang masih duduk di depan jendela sambil memainkan iPhone-nya, berhenti sebentar untuk menandatangani bukti pengambilan voucher taksi, dan akhirnya keluar.
Setelah pintu menutup, aku menarik napas lega. Kadang-kadang menjadi seorang perempuan ‘nakal’ itu menyenangkan. Cerita tentang pacar Tito yang mencium Anton itu hanya punya kebenaran sekian persen. Sebenarnya pacar Tito hanya say hi saja dengan Anton, tidak ada adegan kissing seperti yang aku ceritakan. Senang rasanya bisa memercikkan api pada hubungan Tito. Tapi tak mengapa, saat berita itu bocor, aku sudah tak ada di Jakarta lagi.

Sebulan yang lalu, surat pengunduran diri secara resmi telah aku layangkan kepada bos dan manajer HRD. Mereka pun sudah menyetujui pengunduran diriku, meski mereka menyayangkan, karena aku merupakan karyawan terbaik di divisiku. Sayangnya, aku telah tergoda oleh sebuah perusahaan advertising terkenal yang berpusat di Hong Kong. Mereka menawariku pekerjaan dan tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Menjauh dari Indonesia sepertinya pilihan yang tepat saat ini. Teman-teman sedivisi tak ada yang tahu bahwa aku akan resign dari kantor ini. Dan, untuk mendramatisasi kepergianku, aku ingin hubungan Tito dan pacarnya hancur. Karena… aku mencintai Tito.(f)

Bogor, 8 Mei 2014

*********
Husfani A. Putri
P.S: setting kantornya memang beneran ada, itu adalah mantan kantor saya di Jakarta. Melihat pemandangan dari lantai 24 memang asyik, apalagi saat malam hari. Tapi, tokoh-tokoh di dalamnya murni fiksi, ga ada satu pun yang nyata (siapa tau ada yang nanya)

 

Prompt #43: Persembahan

19 Mar

“Apaaaa?!” Aku tersedak.

Vita mengambil minuman dan menyodorkannya kepadaku. Masih dengan terbatuk-batuk, aku mengambil gelas dari tangannya dan segera meminumnya.

Mataku membelalak menatap Vita. Yang ditatap malah memasang muka datar, menyeruput kopi yang dipesannya.

“Serius lo, Vit?” Masih tak percaya, aku kembali menanyainya.

Vita mengangguk, kali ini ada sedikit binar di matanya. Aku tahu kalau dia senang dengan berita yang dibawanya.

Aku tersenyum lebar, “selamat, ya, Sayang. Dino cowok yang beruntung bisa dapetin lo.” Mataku tak kalah berbinarnya dengan mata Vita.

“Iya, jadi kemarin itu Dino dateng ke rumah, bawa rombongan keluarganya. Gue kira mau ngapain, ternyata dia mau ngelamar gue!” Kali ini Vita tak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia menceritakan proses lamaran yang dilakukan oleh Dino, pacarnya selama setahun ini. Wajahnya sangat bercahaya.

***

Sekembalinya dari pertemuan dengan Vita, aku mengambil kotak bekas sepatu di bawah tempat tidur. Aku bisa membayangkan apa isinya, tentu saja, setiap malam aku selalu membukanya, menatapnya, dan membayangkan tentangnya. Kali ini aku membuka kotak sepatu itu dengan hati tercabik. Di dalamnya terdapat foto-foto Dino yang aku potret secara diam-diam selama lebih dari satu tahun ini. Vita tentu saja tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap Dino, begitu pula Dino yang hanya menganggapku sebagai sahabat Vita. Tapi, sebenarnya aku sudah mencintai Dino jauh sebelum Vita mencintainya. Aku tersenyum getir. Mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskannya. Kakiku melangkah menuju sudut tersembunyi di kamar dan menyalakan lilin yang memang tersedia. Di sana, aku membuat sebuah tempat ‘persembahan’ yang berisi lebih banyak lagi foto Dino. Aku mengambil boneka dengan foto Dino tertempel di badannya, menciumnya dengan penuh perasaan. Dengan mata yang berkaca-kaca, aku menusukkan jarum ke dada boneka itu dan darah mulai menetes.

note: 274 kata

*bikin prompt lagi setelah sekian lama ga bikin :mrgreen:

*sepertinya ga terlalu nyambung dengan quote yang diminta oleh MFF :p

Bang Baim

20 Jul

Sebuah cerpen kolaborasi Husfani A. Putri dan Rinrin Indrianie

***

Bau alkohol menyeruak saat Bang Baim lewat. Matanya yang merah menatap siapa saja yang kebetulan sedang melihatnya.

“Apa lu liat-liat? Mau gue gibeg?” kata Bang Baim sambil mengangkat tangannya, siap-siap untuk menampar wajah Rudi, yang kebetulan sedang memerhatikan Bang Baim.

“Ngg..ngga, Bang,” Rudi segera kabur sebelum Bang Baim sempat menempatkan tangannya di pipi Rudi.

“Bang,orang ngga apa-apa kok malah mau ditampar?” suara lembut seorang wanita terdengar, tangannya memegang tangan Bang Baim yang masih dalam posisi mau menampar.

Bang Baim menyentakkan tangannya, “Halah jangan sok ikut campur deh!”

Wanita itu meneteskan air matanya saat melihat Bang Baim pergi.

Warga Kampung Jambu tadinya bangga mempunyai Bang Baim sebagai salah satu warganya. Karena ditangan Bang Baim, seluruh pertandingan pencak silat antar kampung, dapat dimenangkan dengan mudah. Kemampuan Bang Baim dalam pencak silat memang sudah dikenal. Sejak kecil, Babeh Helmi –bapaknya Bang Baim, yang juga atlet pencak silat- mengajari Bang Baim setiap hari. Babeh Helmi ingin menempa kekuatan dan kemahiran Bang Baim dalam membela dirinya. Berhasil memang, Bang Baim tumbuh menjadi laki-laki yang gagah dan kuat.

Tapi kebanggaan Kampung Jambu terhadap Bang Baim meluntur sejak setahun yang lalu. Saat itu Bang Baim semakin sombong dan arogan. Selain Bang Baim lagi-lagi memenangkan juara bertahan lomba pencak silat, Bang Baim juga ditawari oleh seorang produser untuk main di sinetron laga.

“Ngga usahlah lu ikut-ikutan maen sinetron,” kata Babeh Helmi saat melihat Bang Baim sedang merapikan tasnya untuk syuting.

“Ini kan hidup aye, Beh. Aye pengen terkenal, masuk tipi. Ntar juga kalau aye masuk tipi, Babeh sama Enyak yang seneng.”

“Iye sih, tapi Babeh punya feeling ga enak kalau lu jadi pemaen sinetron.”

“Aye tetep mau maen sinetron. Ini keputusan yang terbaik untuk aye!” Bang Baim mengambil tasnya dan berjalan menuju produser yang sedang menunggunya di luar. Babeh Helmi hanya bisa mengusap-usap dadanya. Yang terbaik buat lu belum tentu terbaik bagi Allah, batin Babeh Helmi.

Benar saja, setelah sebulan Bang Baim ikut main sinetron, perilakunya berubah drastis. Bang Baim mulai sering mabuk-mabukan karena bergaul dengan preman yang ada di sekitar tempat syuting. Babeh Helmi marah melihat kelakukan anaknya yang semakin menjadi-jadi. Enyak Noni malah merasa malu dan menghindar kalau ditanya tentang Bang Baim. Seluruh warga Kampung Jambu berduka, seseorang yang tadinya mereka anggap sebagai pahlawan malah membuat mereka malu.

***

“Denger-denger Bang Baim udah ngga maen sinetron lagi ya? Katanya sih karena produsernya ga tahan sama tingkah Bang Baim.”

“Ya lagian tiap hari mabuk-mabukan. Gimana mau syuting kalau pemerannya malah teler?”

“Malu-maluin aje ye. Kasian Babeh sama Enyak nye.”

Komentar-komentar terhadap Bang Baim semakin miring. Apalagi memang benar kabar yang beredar, Bang Baim sudah tidak main sinetron lagi. Perilaku Bang Baim yang senang mabuk-mabukan membuat seluruh kru sinetron tersebut tidak tahan. Semenjak tidak lagi menjadi pemain sinteron, Bang Baim semakin sering mabuk. Semakin sering juga mengganggu warga. Beruntung Babeh Helmi masih disegani oleh para warga karena kebaikan hatinya. Banyak warga yang bersimpati dan mencoba untuk membantu Babeh Helmi dan Enyak Noni untuk ‘menyembuhkan’ Bang Baim.

Bagaimana kelanjutan cerita Bang Baim? Siapakah yang akhirnya (atas izin Allah) berhasil membuat Bang Baim sadar? Simak lanjutan ceritanya di blog teteh cantik Rinrin Indrianie

*a-la a-la Kecubung 3 Warna-nya Pakdhe Cholik. Hihihii 😉

PS: cerpen di atas, Alhamdulillah berhasil masuk Proyek Menulis-nya nulisbuku “Kejutan Sebelum Ramadhan”. Meski bukan di buku yang terbaik, Alhamdulillah masih dibukakan kesempatan untuk dapat mejeng di salah satu bukunya. Mudah-mudahan nanti saya dan Teh Orin dapat menerbitkan buku atas nama sendiri ya. Aamiin 🙂

[Prompt #18] Vampir

26 Jun

Flash fiction lainnya, khusus buat Monday Flash Fiction. Enjoy! ^_^

 

sumber: klik di fotonya

Kutatap rumah bergaya victorian itu. Atapnya mengingatkanku pada rumah-rumah vampir yang ada di film. Membuat bulu kudukku berdiri, tapi tak mengapa asal ini adalah tempat yang aman untuk kami. Lissa malah terlihat senang. Mukanya berseri-seri saat melihat rumah itu.

“Aku suka sekali rumah ini!” katanya sambil berkeliling menjelajahi rumah.

Ponsel yang ada di kantong celanaku berdering, aku mengangkatnya dan mendengar suara berat seorang pria di ujung sana.

“Apakah kalian sudah aman?”

Aku menjawab dengan sedikit berbisik, “Sudah.”

Tanpa salam perpisahan, pria itu segera memutuskan sambungan telpon. Aku kembali menyimpan ponsel di kantong celana dan segera menyusul Lissa yang masih berkeliling rumah.

***

Aku terbangun. Lissa yang tidur di sampingku, meronta-ronta dan menjerit. Aku berlari keluar dari kamar. Mengejar bayangan itu. Aku terus berlari sampai ke sayap timur, dan mendapati jendela sayap timur terbuka lebar. Sial! Dia pasti sudah kabur.

“AAAAAAA!!” terdengar jeritan Lissa. Aku segera berlari kembali menuju ke kamar. Di sana, lantai kamar sudah berceceran darah. Sesosok tubuh berjubah hitam sedang berada di atas Lissa. Saat melihatku, ia mengibaskan jubahnya dan menunjukkan wajahnya yang penuh dengan darah. Kemudian ia pergi lewat jendela.

“Lissa….” aku tercekat saat melihat lehernya, yang berlubang. Darah sedikit terpercik saat aku mengangkat lehernya. Matanya menatap kosong, pupil matanya memerah. Sepercik air membasahi wajahku. Sosok berjubah hitam itu kembali mendatangi kami dengan cawan di tangannya.

“Ujaaaaaaannngg, udah siang! Sampai kapan mau tidur terus, hah???” Emak, yang memakai daster hitam, memerciki wajahku dengan air dari ember yang dibawanya.

[Prompt #17] Kenangan

18 Jun

“Bu, kok bengong di sini?” suara seorang wanita mengusikku yang sedang menatap sebuah bangunan.

Aku menoleh dan mendapati seorang wanita muda yang cantik, didekapannya ada seorang anak yang sedang tertidur pulas.

“Eh iya, neng. Saya lagi nostalgia,” jawabku sambil kembali menatap bangunan tersebut.

Wanita itu ikut-ikutan melihat ke arah bangunan.

Lima menit berlalu, tidak ada suara yang terdengar selain desau angin yang berhembus.

“Ada apa dengan bangunan itu, Bu?” kembali wanita itu bertanya kepadaku.

Aku menghela napas, teringat sembilan tahun yang lalu saat aku meninggalkan bangunan itu. Isak tangis murid-muridku terdengar saat aku memberitahukan kalau aku akan pergi dari kota ini. Mataku kembali berkaca-kaca, wanita muda itu melihatku hampir menangis. Segera ia memberikan sehelai tisu yang ada di tasnya. Anak yang ada didekapannya bergerak-gerak. Wanita muda itu bersenandung agar anaknya tertidur lagi.

“Aku merindukan saat itu, saat bangunan ini masih sekolah,” akhirnya aku menjawab, sambil menyeka air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Wanita muda itu ikut terdiam.

Aku kembali meratapi bangunan yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi mall. Di sekelilingnya sekarang banyak sekali terdapat gedung pencakar langit. Lagi-lagi aku merasa miris, dulu aku dan murid-muridku sering bermain di sekitar area sekolah yang memang terdiri dari taman-taman yang hijau dan menyenangkan. Kupu-kupu masih bebas berterbangan, suara kicauan burung terdengar. Sekarang? Jangan harap ada kupu-kupu dan burung-burung yang terbang, yang ada hanyalah polusi udara berwarna hitam dan suara klakson kendaraan yang memekakkan telinga.

Tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Aku menoleh dan mendapati wanita muda itu sedang menangis tersedu-sedu.

“Dulu aku yang menjual sekolah ini kepada developer, sekarang aku menyesal karena anak-anakku tidak dapat bermain bebas lagi di sini.”

Aku menatap wajah wanita itu, dan teringat, ia adalah anak dari ketua yayasan. Sembilan tahun yang lalu, ia adalah anak yang menangis tersedu-sedu, menarik-narik rokku agar aku tidak pergi.