[Fiksi] Jalan Setapak

3 Jan

“Sha, hari ini kau pulang sendiri, ya. Aku masih ada perlu di sekolah.”

Asha baru saja menutup risleting tasnya saat Aidan datang mendekat. Wajahnya seketika berubah, mengerutkan kening, kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah.

“Aku mau menunggumu saja.”

“Tidak usah. Aku akan lama, dan pasti kau akan bosan karena aku akan membuat percobaan untuk acara KIR nanti.”

Bola mata Asha memutar. “Iya, aku pasti akan bosan.” Kemudian ia menutup mulutnya, menahan agar suara tawa tertahannya tidak terlalu kentara.

Aidan merenggut, pura-pura marah melihat respons Asha.

“Baiklah, aku akan pulang sendiri.”

Sebenarnya, Aidan tidak tega membiarkan Asha pulang sendiri melewati jalan setapak sepi itu. Jalan raya yang biasanya mereka lewati, sekarang sedang dalam perbaikan. Mobil, motor, sepeda, bahkan pejalan kaki pun tidak bisa melewatinya. Maka dengan terpaksa beberapa hari terakhir mereka mengubah rutenya.

“Ayo aku antar kau ke depan gerbang sekolah.” Aidan mempersilakan Asha untuk jalan duluan, dia kemudian mengikuti dari belakang.

“Kalau perlu apa-apa, jangan ragu-ragu hubungi aku.” Pesan Aidan saat Asha menaiki angkot yang akan membawanya pulang.

“Iya.” Dilambaikan tangannya sampai Aidan mengecil. Asha membalikkan tubuhnya menghadap jalanan. Melihat banyak sekali perbaikan jalan yang dilakukan sekarang, membuat laju angkotnya seperti keong.

Dua puluh menit kemudian, Asha sudah turun dari angkot. Memulai perjalanan jalan kakinya menuju rumah. Memasuki jalan setapak sepi yang jarang dilalui orang. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya benar-benar memasuki jalan itu. Di samping kiri dan kanan hanya ada hamparan kebun luas. Di depan, ia melihat ada dua orang yang sedang berjalan ke arahnya. Setidaknya, kali ini ia tidak sendirian. Setelah dua orang itu melewatinya, jantung Asha berdegup kencang. Di depannya kosong, tak ada orang lain. Ia menengok ke belakang. Dari kejauhan terlihat beberapa titik orang dan terdengar suara riuh tertawa. Mau tak mau ia teringat desas desus yang beredar tentang gerombolan lelaki itu. Asha bergidik, mulutnya komat kamit berdoa memohon perlindungan.

Asha mendekap tas di dada, matanya menatap tanah bercampur debu seiring kakinya melangkah. Napasnya menderu, melirik sedikit dengan sudut matanya, melihat kondisi sekitar yang sepi. Ia ingat, Mama pernah mewanti-wanti agar selalu bersama Aidan saat melewati jalan ini. Tanpa bisa dicegah, sekelebatan kejadian pelecehan yang dilihatnya di televisi, membuat bulu kuduknya meremang. Akhir-akhir ini memang banyak sekali berita seperti itu. Membuat Asha tak nyaman untuk pergi dan pulang sekolah sendirian. Apalagi bila harus melewati jalan setapak sepi seperti ini. Langkahnya semakin dipercepat ketika didengarnya suara riuh yang datang tiba-tiba memenuhi gendang telinga. Ia tidak tahu mereka siapa, yang pasti ia merasakan jari jemarinya mendingin disertai suara detak jantung yang juga berlomba memenuhi pendengarannya.

Sekejap kemudian, sebuah kaki besar menghalangi langkah Asha. Ia bergerak ke kanan, si pemilik kaki bergerak ke kiri, mengikuti gerakan Asha. Asha melangkahkan kakinya ke kiri, lagi-lagi si pemilik kaki itu ikut melangkah di hadapannya. Terdengar suara tawa tertahan di belakangnya.

“Per-permisi, a-aku mau le-lewat,” tergagap, sambil terus menunduk dan makin mendekap erat tasnya, Asha berusaha terus melangkah untuk menghindar dari gerombolan lelaki itu. Tidak bisa, di kanan-kiri-depan-belakangnya, ia sudah dikepung. Tak bisa melangkah sedikit pun. Tangannya gemetar, ujung jarinya sedingin es, jantungnya berdegup tak karuan.

“Pe-permisi,” lagi, ia berusaha untuk dapat keluar dari kumpulan itu.

“Apa kau bilang?” tanya salah seorang lelaki di depannya. “Ada yang mendengar suaranya?”

Banyak suara riuh, Asha hanya dapat mendengar kata ‘tidak’.

“Tidak ada yang mendengarmu, Gadis Kecil. Kau tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.” Udara panas bercampur bau tembakau menyembur di hadapan Asha. Dan terdengar suara tawa memuakkan.

“A-aku mau pulang,” suaranya mencicit, wajahnya basah oleh air mata yang tak berhenti keluar. Kali ini, ia berusaha untuk mencari benda di tasnya yang dapat membantu dalam keadaan seperti ini. Tangannya yang gemetar memperlambat gerakannya. Pun saat akhirnya ada yang mencengkeram erat lengannya, ia tersontak. Wajahnya dibasahi oleh air mata bercampur keringat. Napasnya memburu. Pandangannya mulai kabur, seakan semua melambat. Sedetik kemudian, ia ambruk. Terkulai pasrah di tanah.

Ia dapat mendengar derap beberapa pasang kaki itu semakin menjauh. Sampai akhirnya derap langkah yang terburu-buru itu menjauh dan tak terdengar lagi. Ia memejamkan matanya, membuat air mata yang menggenang akhirnya turun, menganak sungai di pipinya. Asha berusaha menggerakkan tangan, tapi tak ada yang terjadi, tangannya tetap terkulai lemas. Ingin berteriak pun, ia tidak bisa.

Entah sudah berapa lama ia terbaring di tanah, mencoba lagi mengangkat tubuhnya yang masih lemas. Sampai akhirnya ia mendengar langkah kaki gegas yang bergerak ke arahnya.

Siapa pun itu, tolong aku.

“Ya Tuhan!” suara histeris seorang wanita memasuki gendang telinganya. Didengarnya wanita itu berteriak dan berlari ke sana kemari, mencari bantuan. Kembali diselimuti kesunyian, air mata Asha masih tak bisa dibendung. Menit demi menit berlalu sampai akhirnya wanita itu datang bersama dua orang pria yang mendekat, langsung memapah Asha menuju sebuah gazebo yang sudah reyot tak jauh dari tempatnya tergeletak.

“Neng, ini minum dulu.” Wanita yang tadi berteriak memberinya sebuah air mineral gelas, kemudian dibantunya meminumkan kepada Asha. Bibirnya yang masih bergetar, membuat air yang sudah diminumnya tumpah ke sudut bibir. Wajah wanita itu terlihat cemas, berkali-kali beliau mengusap-usap punggung Asha dengan lembut.

“To-tolong tasku, Bu,” katanya lirih sambil menunjuk ke tasnya yang tadi diamankan oleh wanita itu. Tapi, tangannya yang masih lemah tak dapat mengangkat tasnya sendiri.

“Ada yang mau kau hubungi?” tanya beliau lembut.

Asha mengangguk, “Aidan. Tolong ca-cari nama Aidan… dan beritahu aku ada di mana.”

Si wanita mengangguk. Beliau segera mengambil ponsel Asha dan mencari nama Aidan. Tak butuh waktu lama untuk Aidan mengangkat teleponnya dan berbicara dengan wanita itu.

“Sudah,” beliau menyimpan ponsel Asha ke dalam tas dan menyorongkan tasnya untuk dipeluk Asha. “Kau tinggal menunggu, tadi temanmu bilang dia akan segera datang.”

“Te-terima kasih, Bu.”

Beliau hanya tersenyum. “Aku akan menemanimu di sini sampai temanmu datang.”

Wajahnya sedikit kaku akibat jejak air mata yang masih mengalir. Tapi, mau tak mau ia ikut tersenyum. Mengucapkan ‘terima kasih’ lagi dengan lirih.

Keheningan menyelimuti keduanya. Dan si wanita itu tidak berusaha untuk bertanya macam-macam, membuat Asha sangat bersyukur, ia sedang tidak ingin diingatkan oleh kejadian tadi.

Aidan, cepatlah kau datang.

“Sha!” suara panik yang ia tunggu akhirnya datang. Aidan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Asha, mengusap air mata yang menggenang dengan ibu jarinya, kemudian akhirnya ia memberikan tepukan kecil di pundak Asha.

Kali ini Aidan berpaling ke arah wanita yang sejak tadi menemani Asha. Berbicara dengan pelan, sehingga Asha yang masih merasa lemas tak dapat mendengarnya.

“Ibu pulang dulu, ya.” Wanita itu memeluk Asha, yang dibalas dengan pelukan erat. Berkali-kali Asha berbisik ‘terima kasih’ yang hanya ditanggapi dengan tersenyum tulus.

“Ayo kita pulang.” Aidan mengulurkan tangannya untuk mengambil tas Asha. Kemudian dia membantu Asha untuk berdiri. “Bisa berjalan sendiri?”

Asha mengangguk pelan, “tapi pelan-pelan jalannya. A-aku masih lemas.”

“Aku akan selalu di sampingmu. Menemanimu di sepanjang jalan ini.”

Mereka berjalan bersisian. Dalam hening.

“A-apa yang akan aku katakan pada orangtuaku?” terdengar isak tertahan. Aidan menghentikan langkahnya, begitu pun Asha. Lagi-lagi mereka bergeming dalam kesunyian.

“Aku yang akan menjelaskannya. Kau tak usah khawatir.”

Asha mengalihkan pandangannya ke Aidan. Memandang mata cokelat yang teduh itu. Sudut-sudut bibirnya berusaha ia tarik membentuk sebuah senyuman. “Terima kasih. Kau memang sahabatku.”

Tangan Aidan bergerak untuk mengusap-usap puncak kepala Asha. “Lagi pula, memang aku yang salah telah membiarkanmu melewati jalan ini sendiri.”

“Kau kan memang sedang sibuk. Sudah, tidak apa-apa.” Asha mencoba menenangkan.

Kedua pasang manik cokelat itu bertemu. Kali ini dua-duanya melayangkan senyuman. Aku tidak akan membiarkanmu melewati jalan setapak ini sendiri lagi.

.

note: 1.208 kata

diikutsertakan dalam #tantangannulis-nya @JiaEffendie di sini.

endingnya ga banget, sih. hih!

4 Responses to “[Fiksi] Jalan Setapak”

  1. linda January 3, 2015 at 9:25 pm #

    pingsannya karena terlalu takut?

  2. ismyama January 4, 2015 at 12:24 am #

    Ini ambil yg gambar ketakutan ya?hmm, ceritanya sh oke2 aja.cm untuk karakter yg kuat kurang kuat mba. Trs itu ank sekolah kenapa2 yg ditelp temenny bukan ortunya?-_-.trs itu gerombolan lelaki ceritsnya iseng aja?nggak mau ngapa2in aslinya?kukira mau dilecehkan apa dirampok e.hehe.krg konflik.ekspresina aidan jg krg drsmatis ketika tahu asha kenapa2.yak jd panjang deh

  3. Lidya January 4, 2015 at 12:10 pm #

    mencari benda apa di dalam tas ya?

  4. chocoVanilla January 4, 2015 at 1:43 pm #

    Lho, jadinya diapain si Asha? Gerombolan tadi gak ngambil hpnya juga? Syukurlah klo itu kejadian sesungguhnya😀
    Tapi klo utk cerpen kurang greget jadinya, kurang histeris. Itu pendapatku, lho😉
    Keep writing😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: