(semacam) Review: Mahogany Hills

12 Aug
Mahogany Hills

foto dari Goodreads

Judul: Mahogany Hills

Pengarang: Tia Widiana

Pewajah sampul: Cyntia Yanetha

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 344 halaman

Harga: Rp 58.000

Rilis: Mei 2013

ISBN: 978-979-22-9584-9

Bersamamu, cinta menjadi sangat sederhana…

Blurb dari belakang cover buku:

Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan-semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

***

Oke, kita mulai review suka-suka dari saya.

Saya tertarik beli buku ini karena saya tau penulisnya. Mbak Tia ini adalah seorang blogger yang dulu (waktu saya lagi giat-giatnya ngeblog), sering saya kunjungi blognya. Sekarang juga masih suka berkunjung ke sana, meski ga sesering dulu. Gaya bahasa di blognya yang ringan bikin seneng aja bacanya. Jadi makin penasaran deh waktu tau kalau Mbak Tia berhasil menjadi juara 1 di Lomba Penulisan Novel Amore. Horrree! *tabur konfeti*

Akhirnya kemarin setelah bulak balik Gramed, dan nyari di komputer, pas saya baru ngetik “mahogan” mas-mas Gramed langsung bilang ke saya, “itu, Mba ada di sebelah buku Negeri 5 Menara”. Hoooo padahal dari tadi saya ngubek-ngubek sekitar situ.

Saya langsung jatuh cinta dengan cover-nya. Bikin pengen punya rumah seperti itu #kode :p eh tapi nggak mau di kaki gunung yang ga punya tetangga sih. Bisa-bisa setres saya kalau harus tinggal tanpa tetangga. Dan bisa-bisa saya parno setiap hari, karena membayangkan ada orang yang bawa kapak dan mulai membunuhi orang yang tinggal di rumah itu *oke, ini akibat kebanyakan baca dan nonton film-film detektif*

Novel dibuka dengan perjalanan Paras dan jagad menuju Mahogany Hills. Aura kekakuan sudah mulai terasa di sini, Paras berusaha untuk membuka pembicaraan, tapi Jagad malah hanya menjawab seperlunya saja. Pokoknya sebisa mungkin Jagad bersikap dingin dan menyebalkan supaya Paras menceraikannya *nah loh, baru nikah udah berpikir cerai aja*

Akhirnya satu per satu konflik mulai bermunculan. Dari datangnya Nadia (mantan pacar Jagad yang masih dicintai oleh Jagad), konflik batin Jagad (yang ternyata mulai menyukai Paras), kehidupan pernikahan yang dingin dan sepi. Salut deh sama Paras yang ditinggal sendiri, saat Jagad kerja, di Mahogany Hills yang sepi dan mencekam (dalam bayangan saya sih gitu). Tapi untungnya sih ga diceritain ada psikopat yang tiba-tiba datang ke Mahogany Hills sambil bawa kapak dan anggota tubuh manusia (lah jadinya bukan novel Amore dong, Put:mrgreen: )

Dari tadi sepertinya saya ngelantur…

Eh tapi ada 1 adegan psikopat, yaitu munculnya Adrian. Mantan pacar Paras ini diceritakan sebagai orang yang sangat posesif, sampai-sampai Paras ga boleh terlalu sering berkumpul dengan teman-temannya. Kehadiran Adrian ini cuma 1 bab, ya pokoknya abis itu Jagad datang dan setelah berantem, Adrian langsung pergi. Tapi terus Adrian ga ada ceritanya lagi.

Ada satu adegan yang bikin beberapa orang yang nge-review di Goodreads gregetan. Apa ya adegan itu? Baca aja deh bukunya. Saya sih sebenernya ga masalah dengan adegan itu, meski memang klise sih sebenernya. Tapi yang sedikit membingungkan adalah endingnya. Udah nih gitu aja? Ga ada apa gitu?

Mbak Tia ini memang juru dongeng, novel ini enak sekali untuk dibaca, ga berisi kata-kata njelimet yang bikin pening kepala. Sangat ringan, cocok untuk teman minum teh/kopi di sore hari, sambil duduk di teras rumah dengan semilir angin sepoi-sepoi. Dan saya menyadari kalau novel ini lebih banyak narasi daripada dialognya. Mungkin karena Jagad dan Paras memang jarang berkomunikasi kali ya. Lebih banyak isi hati Paras atau Jagad.

Saya juga mencari-cari keberadaan orangtua Jagad dan Paras. Oke, orangtua Paras memang datang saat Paras sedang-dalam-kondisi-terbawahnya, tapi orangtua Jagad? Saya ga menemukan mereka di seluruh buku, kecuali saat Paras nelpon ibunya Jagad. Udah itu aja. Padahal dalam kondisi Paras yang seperti itu, ga mungkin ada orangtua/mertua yang tega ga datang mengunjungi anak/menantu mereka. Oh atau mungkin orangtua Jagad lagi ada acara di luar negeri *positive thinking*

Over all, saya suka dengan Mahogany Hills ini. Rasanya pengen jadi seperti Paras. Menjadi ibu rumah tangga yang selalu memasak untuk suami (tapi dengan catatan suaminya ga kayak Jagad ya). Kejutan-kejutan yang disisipkan pun terasa pas. Ga lebay atau terlalu mengada-ngada. Good job untuk Mbak Tia! Saya kasih 4 dari 5 bintang🙂

NB: Dengan adanya lagu Beach Boys yang “Wouldn’t it Be Nice” jadi mengingatkan saya sama film 50 First Date. Hehe

NB2: ini beneran review suka-suka deh. Masih ga jelas gini, ya namanya juga baru pertama kali bikin review. Dimaafkan yaa *puppy eyes*

One Response to “(semacam) Review: Mahogany Hills”

  1. Lidya August 15, 2013 at 12:47 pm #

    aku belum kenalan sama mbak Tia nih. Maaf lahir batin ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: