Bang Baim

20 Jul

Sebuah cerpen kolaborasi Husfani A. Putri dan Rinrin Indrianie

***

Bau alkohol menyeruak saat Bang Baim lewat. Matanya yang merah menatap siapa saja yang kebetulan sedang melihatnya.

“Apa lu liat-liat? Mau gue gibeg?” kata Bang Baim sambil mengangkat tangannya, siap-siap untuk menampar wajah Rudi, yang kebetulan sedang memerhatikan Bang Baim.

“Ngg..ngga, Bang,” Rudi segera kabur sebelum Bang Baim sempat menempatkan tangannya di pipi Rudi.

“Bang,orang ngga apa-apa kok malah mau ditampar?” suara lembut seorang wanita terdengar, tangannya memegang tangan Bang Baim yang masih dalam posisi mau menampar.

Bang Baim menyentakkan tangannya, “Halah jangan sok ikut campur deh!”

Wanita itu meneteskan air matanya saat melihat Bang Baim pergi.

Warga Kampung Jambu tadinya bangga mempunyai Bang Baim sebagai salah satu warganya. Karena ditangan Bang Baim, seluruh pertandingan pencak silat antar kampung, dapat dimenangkan dengan mudah. Kemampuan Bang Baim dalam pencak silat memang sudah dikenal. Sejak kecil, Babeh Helmi –bapaknya Bang Baim, yang juga atlet pencak silat- mengajari Bang Baim setiap hari. Babeh Helmi ingin menempa kekuatan dan kemahiran Bang Baim dalam membela dirinya. Berhasil memang, Bang Baim tumbuh menjadi laki-laki yang gagah dan kuat.

Tapi kebanggaan Kampung Jambu terhadap Bang Baim meluntur sejak setahun yang lalu. Saat itu Bang Baim semakin sombong dan arogan. Selain Bang Baim lagi-lagi memenangkan juara bertahan lomba pencak silat, Bang Baim juga ditawari oleh seorang produser untuk main di sinetron laga.

“Ngga usahlah lu ikut-ikutan maen sinetron,” kata Babeh Helmi saat melihat Bang Baim sedang merapikan tasnya untuk syuting.

“Ini kan hidup aye, Beh. Aye pengen terkenal, masuk tipi. Ntar juga kalau aye masuk tipi, Babeh sama Enyak yang seneng.”

“Iye sih, tapi Babeh punya feeling ga enak kalau lu jadi pemaen sinetron.”

“Aye tetep mau maen sinetron. Ini keputusan yang terbaik untuk aye!” Bang Baim mengambil tasnya dan berjalan menuju produser yang sedang menunggunya di luar. Babeh Helmi hanya bisa mengusap-usap dadanya. Yang terbaik buat lu belum tentu terbaik bagi Allah, batin Babeh Helmi.

Benar saja, setelah sebulan Bang Baim ikut main sinetron, perilakunya berubah drastis. Bang Baim mulai sering mabuk-mabukan karena bergaul dengan preman yang ada di sekitar tempat syuting. Babeh Helmi marah melihat kelakukan anaknya yang semakin menjadi-jadi. Enyak Noni malah merasa malu dan menghindar kalau ditanya tentang Bang Baim. Seluruh warga Kampung Jambu berduka, seseorang yang tadinya mereka anggap sebagai pahlawan malah membuat mereka malu.

***

“Denger-denger Bang Baim udah ngga maen sinetron lagi ya? Katanya sih karena produsernya ga tahan sama tingkah Bang Baim.”

“Ya lagian tiap hari mabuk-mabukan. Gimana mau syuting kalau pemerannya malah teler?”

“Malu-maluin aje ye. Kasian Babeh sama Enyak nye.”

Komentar-komentar terhadap Bang Baim semakin miring. Apalagi memang benar kabar yang beredar, Bang Baim sudah tidak main sinetron lagi. Perilaku Bang Baim yang senang mabuk-mabukan membuat seluruh kru sinetron tersebut tidak tahan. Semenjak tidak lagi menjadi pemain sinteron, Bang Baim semakin sering mabuk. Semakin sering juga mengganggu warga. Beruntung Babeh Helmi masih disegani oleh para warga karena kebaikan hatinya. Banyak warga yang bersimpati dan mencoba untuk membantu Babeh Helmi dan Enyak Noni untuk ‘menyembuhkan’ Bang Baim.

Bagaimana kelanjutan cerita Bang Baim? Siapakah yang akhirnya (atas izin Allah) berhasil membuat Bang Baim sadar? Simak lanjutan ceritanya di blog teteh cantik Rinrin Indrianie

*a-la a-la Kecubung 3 Warna-nya Pakdhe Cholik. Hihihii😉

PS: cerpen di atas, Alhamdulillah berhasil masuk Proyek Menulis-nya nulisbuku “Kejutan Sebelum Ramadhan”. Meski bukan di buku yang terbaik, Alhamdulillah masih dibukakan kesempatan untuk dapat mejeng di salah satu bukunya. Mudah-mudahan nanti saya dan Teh Orin dapat menerbitkan buku atas nama sendiri ya. Aamiin🙂

6 Responses to “Bang Baim”

  1. Ryan July 20, 2013 at 10:53 am #

    wah… ini cerber di masing-masing blog ya?

  2. monda July 21, 2013 at 1:06 pm #

    keren Put…, langsung ke Orin ah

  3. titi esti July 21, 2013 at 2:06 pm #

    Salam kenal Putri. Penasaran ama bang Baim nih…

  4. rusydi hikmawan July 23, 2013 at 5:51 am #

    kasian sutradaranya berarti, pasti capek teriak “cut” gara2 bang baim teler pas ambil gambar… ini bener2 bukan publik figur, gak patut dicontoh. kyak banyak PNS yg ketangkep nenggak miras

  5. Lidya July 24, 2013 at 4:10 am #

    duh bang baim kok kamu arogan🙂 meluncur ah ke blognya Orin

Trackbacks/Pingbacks

  1. Bang Baim | Rindrianie's Blog - July 20, 2013

    […] Bang Baim? Apa yang telah dilakukannya sehingga mendapat cibiran warga? Simak kisah sebelumnya di blog Neng Putri berikut. Baru dibaca cerita di bawah ini […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: