Drama Satu Hari [Fiksi]

17 Mar

Aku membuka pintu tokoku. Rasanya tadi aku mendengar ketukan. Tapi ternyata setelah aku buka, tidak ada siapa pun di depannya. Aku melihat ke kiri dan kanan. Tetap tidak ada orang. Pintu toko kembali aku tutup. Tunggu, ada yang aneh. Aku kemudian melihat ada sesosok benda di bawah pintu. Dibungkus keranjang roti. Mataku membelalak. Hatiku berdegup. Jangan-jangan bungkusan itu adalah……

Belum sempat aku membuka, bungkusan itu bergerak sedikit. Aku semakin panik. Tapi kemudian aku memberanikan diri untuk membukanya. Napasku tertahan saat melihat isi dalam bungkusan tersebut. Seorang bayi! Gawat! Kenapa ada seorang bayi yang disimpan di depan toko rotiku? Dengan kalap aku meraba-raba bagian dalam keranjang, berharap ada secarik kertas yang berisi penjelasan. Tapi nihil. Aku malah menemukan banyak diaper, baju, dan berbagai perlengkapan bayi. Bahkan 6 botol besar dan 3 botol kecil yang aku anggap berisi ASI. Keranjang itu segera aku angkat. Bayi di dalamnya masih tertidur pulas. Sepertinya bayi ini masih berusia 2 bulan. Aku segera memasukan botol-botol ASI ke dalam freezer agar lebih tahan lama. Bayi -yang ternyata berjenis kelamin perempuan- aku pindahkan ke boks tempat biasa aku menidurkan bayiku. Suami dan bayiku masih berada di dalam kamar, di atas toko roti ini. Saat membereskan keranjang tersebut, aku menemukan secarik saputangan. Dipinggirnya tersulam sebuah nama: “Isabelle”. Sepertinya itu adalah nama bayi ini, aku berdialog dalam hati.

“Em, kamu sedang apa?” suamiku tiba-tiba datang sambil menggendong bayi kami dan kemudian terbelalak melihat ada sesosok bayi lain. “Siapa itu, Em? Kenapa ada bayi lagi di sini?”
Aku menjelaskan bagaimana aku menemukan bayi tersebut. Suamiku hanya bisa terdiam. Aku tahu dia sedikit keberatan, tapi setelah melihat bayi itu, dia jadi ga tega juga. Akhirnya kami sepakat untuk menampung dulu bayi itu, sampai ada yang mengambilnya. Kalau tidak ada, kami akan segera melaporkannya.

Pagi itu berjalan dengan lancar. Isabelle ternyata sudah dimandikan sebelum disimpan di depan toko rotiku. Jasmine -bayi kami- segera aku mandikan, disaat suamiku mengurus toko roti kami. Umur Jasmine lebih tua dua bulan dibanding Isabelle. Tapi rasanya dia tidak keberatan saat boks bayinya dipakai Isabelle. Jasmine terlihat sangat tertarik dengan Isabelle. Mungkin karena dia baru pertama kali berinteraksi dengan bayi yang lebih kecil.

Menjelang siang, Isabelle mulai menangis. Aku meletakan Jasmine di boks satunya yang kami pinjam dari tetangga sebelah, dan memberikan ASI yang telah dihangatkan kepada Isabelle. Sepertinya dia kehausan, gantian sekarang aku menggendong Isabelle. Jasmine memandangiku, kemudian dia menangis keras sekali. Beberapa pelanggan melihat ke arah kami. Aku masih berusaha untuk mendiamkan Jasmine tanpa menggendongnya. Isabelle terus menyedot susunya, tapi dia kemudian ikut menangis.
Honey, can you help me?” aku berteriak mengatasi suara tangis dari dua bayi ini. Suamiku segera datang, mukanya ikut panik. Untung kami mempunyai karyawan yang cukup untuk membantu di dalam toko. Dan mereka segera sigap mengganti posisi kami yang sedang sibuk dengan dua bayi ini. Aku melihat beberapa pelanggan berbisik sambil melihat ke arahku. Kenapa kalian ga membantu sih? Gerutuku dalam hati. Tapi kedatangan Ardi, suamiku sangat membantu. Dia menggendong Jasmine yang masih menangis. Isabelle berhasil aku diamkan. Susu di dalam botol sudah habis. Mata Isabelle mulai menutup lagi. Aku menggendong dan mengayun-ayun Isabelle sambil bersenandung. Ardi berkutat dengan Jasmine yang masih menangis. Setelah yakin Isabelle sudah tidur, aku menurunkan Isabelle ke boks. Dan aku langsung mendekap Jasmine dengan sayang.

Menjelang sore, aku memandikan kedua bayi. Ternyata ide itu sangat buruk mengingat Isabelle masih sangat kecil dan Jasmine belum bisa duduk sendiri. Akhirnya aku mandikan Jasmine terlebih dahulu. Ardi kembali membantu dengan senang hati. Dia menggendong Isabelle selagi aku memandikan Jasmine.
“Ternyata begini yah rasanya punya dua anak,” Ardi berbicara sambil terus mengajak Isabelle berbicara. “Kita bakalan nambah anak lagi kan, Em?” tanya Ardi sambil sedikit ragu, takut aku berubah pikiran karena telah merawat dua anak sekaligus hari ini.
Aku tersenyum, “tentu saja kita akan punya anak lagi. Setelah Jasmine berumur 2,5 tahun kan?”
“iya sayang, ga usah terburu-buru juga.” Isabelle kembali menangis. Ardi panik. Aku segera menyuruh dia mengambil ASI yang telah aku siapkan di meja.

“Mbak Em, ada yang mencari Isabelle,” kata seorang karyawanku yang datang menyusul kami ke kamar. Aku dan Ardi bertukar pandangan. Kami segera buru-buru memakaikan Isabelle baju, kemudian membawa Isabelle dan Jasmine ke bawah. Aku melihat sesosok wanita cantik yang anggun menunggu di depan kasir.
“Isabelle!” katanya sambil berlari ke arahku dan langsung mengambil Isabelle dari gendonganku. Wanita itu memeluk Isabelle dengan erat. Aku melihaat wajahnya. Ah, aku ingat. Dia adalah pelanggan toko kami. Aku juga ingat percakapan samar-samar 2 bulan lalu, saat itu dia sedang hamil 9 bulan dan berkata kepadaku bahwa dia akan segera melahirkan. Wanita itu menjelaskan kalau dia tiba-tiba dipanggil untuk segera ke kantor, sedang di rumahnya tidak ada siapa-siapa. Suaminya sedang ada dinas dan nanny yang biasanya datang, hari itu izin karena ada keperluan. Akhirnya dia nekad untuk menyimpan bayinya. Dan teringat kepadaku. Setelah terus-terusan mengucapkan terima kasih, dia segera pulang sambil terus mendekap Isabelle dengan sayang.

Aku, Ardi, dan Jasmine yang sedang aku gendong, melihat kepergian wanita itu. Ardi memeluk bahuku. “Aku tersanjung dengan kepercayaan yang dia berikan kepada kita,” kata Ardi. Aku mengangguk setuju.

Bogor, 16 Maret 2012

4 Responses to “Drama Satu Hari [Fiksi]”

  1. Arman March 18, 2012 at 10:16 am #

    waduh nekad amat itu orang ya…
    lha kalo bayinya diambil orang, dibawa kabur, gimana?😛

  2. alifaseptiana March 21, 2012 at 8:56 am #

    walah…. walaupun percaya sama pemilik toko roti tapi ya jangan di taroh di keranjang gitu babynya…kan kasian🙂

    Tapi ceritanya bagus bgt, endingnya gak nyangka kalau bakal gitu…🙂

  3. bundamahes March 30, 2012 at 11:18 am #

    kirain bayinya dikasihin ke pemilik toko! etapi kenapa gak ditaroh di daycare aja ya put?❓

  4. Hijriyan April 10, 2012 at 8:03 pm #

    Benarkah perempuan itu ibu sebenarnya bayi itu? Kok ga ditanyain dulu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: