happy birthday

17 Sep

td lg iseng2 ngebongkar file lama di laptop. ternyata nemuin ada cerpen ini. dibuatnya udah lama bgt, pas masih jaman jahiliyah, makanya isinya pacaran2..hahahhahaa. tp ga ada salahnya sih kalo mau baca mah. hehehee selamat membacaaaa😀


“Tapi, Pa,” kata Mila merajuk.

“Ngga ada tapi-tapian!” Papa semakin keras pendiriannya. “Pokoknya kamu belum boleh pacaran sampai umur kamu 17 tahun.”

Mila mengerang. “Lho, kan tinggal 3 bulan lagi umur Mila 17 tahun. Anggap aja sekarang Mila udah 17 tahun,” Mila ngga mau kalah.

“Maka dari itu, kamu harus sabar. Kan tinggal 3 bulan lagi. Abis itu kamu boleh deh pacaran, asal ngga yang aneh-aneh aja pacarannya,” jawab Papa sambil menyeruput tehnya.

Pembicaraan ini dimulai waktu Mila berencana untuk ngenalin Doni ke Mama dan Papanya. Meski Mila udah tau kalo Papanya belum ngebolehin dia untuk pacaran, Mila tetep keukeuh untuk ngenalin Doni. Tapi, ya gini deh akhirnya…

Mila mengerling ke Mama. “Ma..” kata Mila meminta bantuan.

Bukannya membela Mila, Mama malah berkata. “Iya, dengerin tuh Papa kamu. Tinggal nunggu 3 bulan kok, apa susahnya,”

Mila terlihat berpikir. Mmmh, iya sih, tinggal nunggu 3 bulan, tapi apa reaksi Doni ya kalau aku bilang tentang ini ke dia? Batin Mila. Akhirnya, “Ya udah, deh. Mila ngalah. Besok Mila bilang deh ke Doni.”

Mama dan Papa tersenyum. “Gitu dong,” kata Papa sambil mengusap kepala Mila.

“Tapi bener ya, Pa, kalau umur Mila udah 17 tahun Mila boleh pacaran? Mila ngga mau diboongin,”

“Iya. Tenang aja, sayang. Kamu bisa megang janji Mama dan Papa,” jawab Mama sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.

Mila tersenyum lebar. “Makasih ya, Ma, Pa,” kemudian Mila memeluk kedua orang tuanya dengan sayang.

Besoknya sebelum masuk sekolah, Mila menarik Doni dari gerombolan teman-temannya, setelah meminta maaf pada mereka. Mila dan Doni kemudian jalan ke kantin sekolah, Doni yang minta, soalnya dia belum sarapan.

“Ada apa sih, Mil? Kok tiba-tiba narik aku gitu,” Tanya Doni heran sambil duduk di kursi kantin.

Mila ikut duduk di hadapan Doni. “Aku mau ngomong sesuatu.”

“Ngomong apa? Serius banget.”

“Huuff,” Mila menghela nafas. Kamu bisa ngomong ini, batin Mila. “Kayaknya kita mending break dulu, deh.” Akhirnya, bisa juga ngomongnya.

Doni yang lagi minum ice coffee-nya sedikit tersedak. “Uhuk… Uhuk.. Apa? Break? Kamu serius?”

Mila menepuk-nepuk punggung Doni. “Iya, aku serius. Kemaren aku ngomong sama Mama dan Papa tentang pacaran backstreet kita. Terus mereka ngga setuju,” Mila lalu memceritakan obrolan dengan kedua orang tuanya.

Setelah mendengar semua cerita Mila, Doni hanya bisa mengangguk. “Jadi intinya, aku harus nunggu sampai umur kamu 17?”

Mila mengangguk. “Yup. Kamu mau kan nungguin aku?”

Doni mengedip-ngedipkan matanya, genit. “Menurut kamu, aku bakalan nunggu 3 bulan untuk kamu? Mmmh, gimana ya? Kayaknya bakalan susah, nih,” kata Doni sambil senyum-senyum.

“Iih, kamu jahat! Masa cuma 3 bulan ngga mau sih?” Mila merengek.

Tawa Doni meledak saat melihat muka Mila yang terlihat mau menangis. “Hahahaha.. ya ampun, aku cuma bercanda kali. Iya, aku bakalan nunggu kamu,”

“Serius?” muka Mila yang tadinya merenggut, kembali cerah.

“Iya, aku serius,” Doni tersenyum menenangkan.

Mila masuk ke dalam kelas, mukanya sedikit cerah, tapi masih rada mendung. Dia segera duduk di bangkunya. Vira, teman sebangkunya, belum kelihatan batang hidungnya. Dia emang selalu baru datang 10 menit sebelum bel berbunyi. Nina, yang udah datang dari tadi, mendekati Mila.

“Lo kenapa, Mil? Kok datengnya dengan muka yang rada cemberut gitu?” tanyanya sambil duduk di sebelah Mila.

Mila memandang Nina. “Biasa, masalah gue ga boleh pacaran sama bokap,” lalu Mila menceritakan obrolannya dengan Mama dan Papanya tadi malam, juga obrolannya dengan Doni.

Nina hanya mengangguk. “Ooh, tapi lo udah dibolehin pacaran kan? Terus Doni juga udah mau kan nungguin lo. Ngapain juga masih cemberut. Senyum dong.”

Mila kemudian tersenyum, iya, ngapain juga gue mikirin hal itu. Toh 3 bulan lagi gue bakalan boleh pacaran, cuma 3 bulan lagi lho. Harus bisa sabar.

Hari demi hari berlalu setelah obrolan Mila dengan orang tuanya. Ujian kenaikan kelas semakin dekat. Mila terus sibuk dengan kegiatannya sebagai pelajar. Ikut les lah, ada rapat, atau latihan tari tradisional yang semakin rutin, karena akan tampil di perpisahan kakak kelasnya yang akan lulus. Frekuensi bertemu Mila dan Doni pun semakin kecil, mereka ngga sekelas. SMS pun semakin jarang. Tapi Mila ngga ambil pusing, dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

Seperti siang ini. Mila lagi sibuk membawa baju-baju yang bakalan dia dan teman-temannya pakai, lalu ada seseorang yang menabrak Mila sampai jatuh.

“Aduh,” Mila mengerang.

“Maaf, maaf. Gue ngga sengaja. Lagi buru-buru soalnya,” kata cowok itu sambil membantu Mila mengambil baju-baju yang berserakan.

Kayaknya gue kenal suara ini, kata Mila dalam hati. Benar saja, ketika Mila mendongak, dia menemukan wajah yang sangat dikenalnya. “Doni?”

Doni melirik. “Oh, kamu, Mil. Kirain siapa. Abisnya kamu diem aja,” jawab Doni sambil tersenyum.

“Iya nih, aku lagi sibuk. Mau latihan buat perpisahan nanti. Kamu mau kemana? Kok buru-buru banget, sih?”

“Aku juga mau latihan. Latihan voli. Udah telat, makanya tadi buru-buru sampai aku nabrak kamu.”

Mila berdiri, semua bajunya udah terkumpul lagi. Doni juga ikutan berdiri. “Mmmh, aku mau latihan dulu, ya. Temen-temen aku udah pada nunggu, mau pada fitting baju,” Mila melambaikan tangannya. “Sampai ketemu, kalau gitu.”

Doni mengangkat tengannya juga. “Ok, aku juga mau latihan dulu. Bye.”

Keduanya lalu berlari ke arah yang berlawanan.

Akhirnya, setelah semua les, rapat, ujian, dan perpisahan selesai, Mila dapat menghela nafas lega. Pasalnya, tinggal beberapa hari lagi umur Mila akan genap 17 tahun. Mila sangat sangat senang. Atas kemauan Mila, ulang tahun ke 17-nya ini ngga dirayain secara besar-besaran. Mila cuma pengen ngundang sahabatnya dan tentu saja, Doni, ke acara makan malam yang akan disiapkan oleh Mama.

Hari ulang tahun yang sangat dinantikan Mila pun akhirnya datang. Mila bangun dengan muka tersenyum pada hari ulang tahunnya. Dia melihat HP dan udah ada 12 pesan yang masuk. Dari teman-temannya dan Doni! Mila segera membaca pesan dari Doni,

From: Doni-Quw!!

Mila, happy birthday y!! Cie..cie.. yg udh 17thn! Can’t wait 2 c u 2nite, I wanna tell u something..

Mila tersenyum saat membacanya. Pasti Doni ngga sabar untuk jadiin gw cewenya lagi, hahaha! Batin Mila geer. Dia membalas,

To: Doni-Quw!!

Mksi bgt y, Don!! Can’t wait 2 c u 2!!

^_^

Message sent

Sepanjang hari itu, Mila menghabiskan waktunya untuk membalas ucapan selamat ulang tahun yang terus dikirmkan oleh teman-teman yang mengenal Mila. Mila senang, ternyata teman-temannya masih ingat ulang tahunnya, padahal dia jarang menyebutkan hari ulang tahunnya, dia emang ngga terlalu suka kalau ulang tahunnya diketahui banyak orang.

Mama dan Papanya ikut repot, mereka berdua pergi ke pasar, membeli banyak makanan untuk disuguhkan kepada teman-teman Mila yang akan datang malam ini. Puncaknya, Mama dan Papa memanggil Mila ke ruang tamu, satu jam sebelum acara makan malam dimulai.

“Mila,” kata Papa memulai pembicaraan. “Sekarang kamu udah 17 tahun. Papa bakalan nepatin janji, kamu boleh pacaran mulai dari detik ini.”

Senyum Mila mengembang. “Bener, Pa?” Papa mengangguk. Belum puas hanya dengan anggukan Papa, Mila bertanya kepada Mamanya. “Bener, Ma?” Mama mengangguk sambil tersenyum.

Mila ngga bisa nahan senyumnya, dia kemudian berteriak. “Yippie!! Mila seneng banget! Makasih ya, Ma, Pa,” kata Mila sambil mencium tangan Mama dan Papanya, kemudian dia memeluk keduanya.

Satu jam kemudian, sahabat-sahabat Mila berdatangan. Satu per satu menyalami Mila sambil memberi selamat.

“Cie, yang udah boleh pacaran,” kata Vira.

“Iya dong! Tadi Mama sama Papa udah bilang gue sekarang udah boleh pacaran!” jawab Mila sambil memeluk Vira.

“Tau deh yang lagi seneng! Tapi Doninya kemana? Belum dateng ya?” Tanya Nina.

Mila melepaskan pelukannya. Kemudian dia melihat jam. “Katanya sih dia bakalan dateng jam 7-an gitu, tapi kok sampe sekarang belum dateng ya?!” Mila jadi cemas.

Gita, teman dari SMP-nya menenangkan. “Mungkin aja macet. Sekarang kan malem minggu. Tadi aja pas kita ke sini, kita kejebak macet, untung cuma sebentar.”

“Oh, iya ya. Mungkin aja macet,” Mila menenangkan diri sendiri. “Ya udah, kalian masuk dulu aja ke dalem, makan apa dulu kek, sambil nungguin Doni,” Mila lalu mengajak teman-temannya ke dalam.

Lagi asyik-asyiknya ngobrol dan ketawa, tiba-tiba Doni muncul. Mila berdiri sambil tersenyum cerah. Doni menghampiri Mila kemudian ngasih kadonya yang gede banget, lalu menarik Mila ke halaman belakang.

Mila duduk di samping kolam. “Kenapa, sih narik-narik aku?” kakinya dimasukkan ke dalam kolam.

Doni ikut duduk. “Kan aku udah bilang, aku ngga sabar untuk ketemu kamu.”

Untung cahaya di halaman belakang ngga terlalu terang, kalau terang, Mila bisa malu , soalnya sekarang muka Mila udah mulai memerah. “Kamu mau ngomong apa sih, sampe ngga sabar untuk ketemu aku?”

“Ehem,” Doni membersihkan tenggorokannya. “Aku mau ngomong ini…” tiba-tiba Doni diam.

Mila menoleh ke arah Doni. “Ngomong aja kali, ngga usah malu-malu.”

“Sebenernya… Aku…”

Hati Mila udah berbunga-bunga. Bilang aja kamu mau jadiin aku pacar kamu lagi, kata Mila dalam hati. Mila udah senyum-senyum, menahan gejolak yang ada di hatinya.

Doni melanjutkan. “Sebenernya, aku udah jadian sama mantan aku waktu SMP lagi. Dia…”

Tapi Mila udah ngga ngedenger apa yang dikatakan Doni. Dunia terlihat gelap.

5 Responses to “happy birthday”

  1. Goda-Gado September 21, 2010 at 4:14 pm #

    kirain DONI mau bilang

    “aku belum berumur 17 tahun
    jd belum boleh pacaran”

    wkwkwkwkwk
    trus gimana kabar Doni tuh??

    ini beneran ultah???

    • jasmineamira September 24, 2010 at 4:59 pm #

      eeh iyaa bener..pdhl akhirnya bagusan gitu yah
      hahaha ini mah cerpen pas taun kapan gtw, udah lama bgtttt..hampir lupa malah punya cerpen ini

  2. Goda-Gado September 30, 2010 at 9:18 am #

    Putri………putri
    km nyari cowok yg namanya putra saja😀

    • jasmineamira October 8, 2010 at 4:36 pm #

      putra itu nama gebetan ku 3 tahun yg lalu. anak IPB jg.
      hihihihihihii
      sekarang udah nggak ahh :p

  3. Asop October 11, 2010 at 9:14 pm #

    Uhuk… *batuk* 😳 *tersipu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: