Archive | January, 2012

Sepucuk Surat (bukan) Dariku

18 Jan

Coba kalau kamu telpon aku, pasti dengan sigap aku akan mengangkatnya. Tanpa kamu harus menunggu lama. Pada dering pertama, kamu pasti akan mendengar suaraku. Aku akan memulainya dengan pertanyaan biasa: “Apa kabar?”. Setelah itu, aku akan membiarkanmu untuk bercerita. Bercerita apa saja. Aku akan selalu mendengarkan. Aku akan tertawa mendengar semua cerita lucu yang kamu ceritakan. Aku tidak akan memarahimu bila kunci kamarmu hilang lagi. Tidak akan. Aku akan memakluminya. Ya mungkin aku akan sedikit memberi nasihat padamu. Aku tahu kamu tidak suka saat aku memberi sedikit saja nasihat, tapi apalagi yang bisa aku perbuat selain memberi nasihat?
Dan kemudian kamu pun berkata akan pergi. Aku melihat lama percakapan yang terekam di HP-ku. 7 menit 25 detik. Bagiku itu sudah cukup. Sebelum aku sempat mengucapkan kata perpisahan, telpon sudah kamu tutup. Aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati: “Tidak apa”. Karena aku sudah memaklumi dan menerimamu dengan setulus hati.

***

Aku membaca kembali surat itu. Bukan surat dariku, tapi surat darimu yang kamu kirimkan kepadaku.

Bogor, 18 Januari 2012

Hari ke tujuh #15HariNgeblogFF *baru ikutan lagi :mrgreen:

Aku maunya Kamu, titik!

15 Jan

Masih teringat dengan jelas hari saat kami bertemu lagi setelah sekian lama tidak bertemu. Aku melihatmu sedang berjalan di tempatku. Aku sampai harus mengucek mata, takut salah melihat. Benarkah itu kamu? Kamu yang sudah lama aku dambakan? Kamu yang pergi tanpa perpisahan tiga tahun yang lalu? Kamu yang meninggalkanku yang menangis di hari kepergianmu? Kamu yang banyak memberikan kenangan bagiku? Kamu yang…..

Rasanya akan terlalu banyak jika aku jabarkan di sini. Karena memang akan banyak sekali yang bisa aku ceritakan tentang dirimu. Aku masih ingat caramu tertawa, aku masih ingat wajahmu yang serius saat sedang membaca, aku masih ingat pakaian yang kamu kenakan di hari kepergianmu, aku masih ingat bahwa jantungku selalu berdebar dengan kencang bahkan saat aku hanya melihat punggungmu. Kamu pernah bertanya mengapa aku bisa mengenalinya meski cuma melihat punggung. Aku tersenyum, karena aku mengenalmu. Aku maunya kamu, titik! Kamu terdiam mendengar kalimatku.

Hari itulah pertama kalinya aku melihatmu lagi. Aku tahu kamu masih belum menikah. Entah apa atau siapa yang kamu tunggu. Aku tetap memperhatikanmu dari kejauhan. Kamu mengobrol dengan resepsionis di depan pintu masuk. Aku melewatimu, dan kemudian aku mendengarnya. Mendengar suaramu.
“Kania!” aku menoleh dan tersenyum melihatmu. Kamu pun tersenyum dan mendekatiku.
“Aku datang khusus untuk menemuimu,” katanya. “Tapi mengapa kamu bekerja di tempat ini?” kamu terlihat heran sambil melihat ke sekeliling.

Aku hanya bisa tersenyum. Kamu masih menatapku dengan heran. Kemudian aku menjawabnya. “Aku tidak bekerja di sini, aku sedang belajar.” bukan suaraku yang terdengar, tapi suara resepsionis itu. Sudah setahun aku kehilangan suara, karena pita suaraku rusak parah. Dan baru sebulan ini aku belajar untuk berbaur dan menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak bisa mengeluarkan suara. Aku pun belajar mempelajari bahasa isyarat di sekolah ini.
Kamu terlihat kaget saat mengetahui kenyataan ini. Aku tahu kamu terpukul. Tapi kamu tersenyum dan berkata, “Tidak apa. Aku maunya kamu, titik! Tidak peduli bahwa kamu tidak bisa mengeluarkan suara, aku akan menjadi suaramu. Ayo kita menikah!”

Bogor, 15 Januari 2012

Hari keempat #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

“Kamu Manis,” kataku

14 Jan

Aku menghirup udara pagi yang segar di rumahku. Rasanya sangat nyaman. Aku meregangkan tangan, memutar-mutar pinggang, melemaskan semua anggota badanku yang terasa kaku setelah tidur semalaman.
Kemudian, aku melihat sesosok makhluk yang menarik perhatianku. Segera saja aku memfokuskan mataku padanya. Mataku melihat dengan buram, segera saja aku ingat kalau aku sedang tidak memakai kacamata. Aku mengambil kacamata yang tergeletak di meja samping tempat aku berdiri. Setelah aku memakai kacamata, ternyata makhluk itu sudah pergi, dan aku tidak dapat menemukannya kembali.

Sepanjang hari, aku memikirkan makhluk itu. Pikiranku tidak pernah lepas darinya. Mengapa baru kali ini aku melihatnya? Tidak, sebenarnya pertanyaan yang benar adalah: mengapa aku tidak memperhatikannya? Padahal aku selalu melihat dia bermain dengan yang lain. Tapi saat itu aku tidak benar-benar memperhatikannya.

Sepulang kantor, aku menyempatkan diri untuk melihat ke arah rumah yang berada di seberang rumahku. Berusaha untuk melihat keberadaannya. Tapi dia tidak terlihat. Aku pun segera pulang ke rumah, mencari istriku yang pasti sudah ada di dalam rumah. Benar saja, istriku sedang membaca buku. Aku segera mendekatinya, memintanya untuk bersama-sama pergi ke rumah seberang. Istriku terlihat senang. Sudab berapa lama istriku memang melihat makhluk yang menarik perhatian itu. Tapi aku masih belum percaya sampai akhirnya aku melihatnya sendiri.

Kami berdua pergi bersama ke rumah itu. Sang pemilik rumah meyambut kami dengan senang hati. Beliau membawa kami ke sebuah kamar, tempat makhluk manis yang menawan itu tinggal. Dia tersenyum ketika kami datang. Aku dan istriku semakin jatuh cinta dengannya. Setelah berbincang dengan semua orang yang berwenang, akhirnya kami berencana untuk mengadopsi makhluk manis itu. Kami sebenarnya memiliki anak yang tidak kalah manis, dan dia pasti akan senang kalau tahu kami akan mengadopsi makhluk manis itu. Karena anak kami itu pun sangat menyukainya.

“Saya akan mengantar kalian kepada Lulu lagi,” kata ibu pemilik panti kepada kami. Makhluk manis itu ternyata bernama Lulu. Seorang anak perempuan yatim piatu yang berusia 1 tahun. Kedua orang tuanya telah meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dua bulan yang lalu. Istri dan anakku memang sudah jatuh cinta sejak Lulu datang ke panti asuhan yang berada di seberang rumahku. Aku pun langsung jatuh cinta, meski baru melihatnya. Aku berbisik ke telinga Lulu yang ternyata telah tertidur, “Kamu manis,” kataku.

Bogor, 14 Januari 2012

Hari ketiga #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

Dag Dig Dug!

13 Jan

Dua hari menjelang sidang skripsi… (more…)

“Halo, Siapa Namamu?”

12 Jan

“Halo, siapa namamu?”

Sebuah pesan singkat yang hanya bertuliskan kalimat tanya tersebut mampir di handphone-ku. Dikirim dari nomor tak dikenal. Aku hanya membuka dan membaca pesan tersebut, tanpa membalasnya. Aku memang paling malas untuk membalas pesan dari nomor yang tak dikenal, apalagi hanya sekadar iseng seperti itu. (more…)

*edisi curhat*

4 Jan

Entah apa yg ada di pikiranmu saat melihat namaku muncul di timeline mu. Yg aku tau pasti, aku selalu menunggu-nunggu kehadiran namamu di timeline ku. Menantinya dgn sepenuh hati. Meski saat namamu muncul, aku tak memiliki keberanian yg cukup untuk membaca dan meneliti apa yg kamu tulis.
Aku hanya senang bila melihat namamu. Bahagia melihatmu ternyata baik-baik saja di sana.
Aku tak tau apakah kamu memang memperhatikan ku. Tapi yg aku tau pasti, aku selalu memperhatikanmu.

*edisi curhat*

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers